Selasa, 02 Juli 2013

Tafsir Surat Adz-Dzaariyat Ayat 56


MAKALAH TAFSIR
TAFSIR SURAT ADZ-DZAARIYAAT AYAT 56
Di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Dosen pembimbing: Dra. Juwariyah

Disusun Oleh :
Muhimmatul Farihah (11470016)
                                                                                          
KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013



BAB I
PENDAHULUN
A. Latar Belakang
            Jin dan manusia dijadikan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Tegasnya, Allah menjadikan kedua makhluk itu sebagai makhluk-makhluk yang mau beribadah, diberi akal dan panca indera yang mendorong mereka menyembah Allah, untuk beribadahlah tujuan mereka diciptakan. Dengan demikian, ibadah yang dimaksud disini lebih luas jangkauannya daripada ibadah dalam bentuk ritual. Maka kita harus taat dan patuh kepada semua perintah Allah dan menjauhi laranganya karena semata-mata jin manusia diciptakan untuk taat kepada Allah.
Ibadah bukan hanya sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa sesorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memilki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya. Begitulah kurang lebih pendapat Muhammad ‘Abduh. Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghairu mahdhah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumusakan masalah adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana asbabun nuzulnya surat Adz-Dzariyaat: 56?
2.      Bagaiamana tafsir surat Adz-Dzariyat ayat 56?
C. Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui asbabun nuzulnya surat Adz-Dzariyat:56
2.      Untuk mengetahui bagaimana tafsir surat Adz-Dzariyat ayat 56

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asbabun Nuzul
Ketika para malaikat mengetahui bahwa Allah SWT akan menciptakan khalifah di muka bumi. Allah SWT menyampaikan perintah-Nya kepada mereka secara terperinci. Dia memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan manusia dari tanah. Maka ketika Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh di dalamnya, para malaikat harus bersujud kepadanya. Yang harus dipahami bahwa sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan sujud ibadah, karena sujud ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah SWT.
B. Surat Adz-Dzariyat Ayat 56
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
  وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُون
Artinya: ” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”. (Qs, Adz Dzaariyat: 56)[1]
Makna Mufrodat Dan Kandungan Ayat :
Didahulukannya penyebutan kata (الجن) Jin dari kata (الإنس) manusia karena jin memang lebih dahulu diciptakan Allah dari pada manusia. Huruf (ل) pada kata (ليعبدون) bukan berarti agar supaya mereka beribadah atau agar Allah disembah, sedangankan Menrut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam tasirnya, Al-Misbah, penafsiar an ayat di atas adalah sebagai berikut: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk satu manfaat yang kembali pada diri-Ku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesudahan aktivitas meraka adalah beribadah kepada-Ku.
Ayat di atas menggunakan bentuk persona pertama (Aku), karena memang penekannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju kepada-Nya semata-mata tanpa memberi kesan adanya keterlibatan selain Allah swt, huruf lam disini sama dengan huruf lam dalam firman Allah SWT:
 “ Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.”
Bila huruf lam pada liyakuna dipahami dalam arti agar supaya, maka di atas seperti: maka dipungutlah dia oleh keluarga fir’aun agar supaya dia Musa yang dipungut itu menjadi musuh dengan kesedihan bagi mereka.
Thabathaba’I memahami huruf lam pada ayat yang ditafsirkan dalam arti agar supaya, yakni tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah. Ulama ini menulis bahwa tujuan apapun bentuknya adalah sesuatu yang digunakan oleh yang bertujuan untuk menyempurnakan apa yang belum sempurna baginya atau menanggulangi kebutuhan/ kekurangannya. Tentu saja hal ini mustahil bagi Allah SWT, karena dia tidak memiliki kebutuhan. Dengan demikian tidak ada lagi baginya yang perlu disempurnakan. Namun disisi lain, suatu perbuatan yang tidak memiliki tujuan adalah perbuatan sia-sia yang perlu dihindari.
Mengapa, hai Muhammad, kamu diperintahkan untuk memperingatkan umat manusia? Kamu diperintahkan untuk memperingatkan bahwa jin dan manusia tidak diciptakan kecuali untuk beribadat kepada-Ku.
Jin dan manusia dijadikan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Tegasnya, Allah menjadikan kedua makhluk itu sebagai makhluk-makhluk yang mau beribadah, diberi akal dan panca indera yang mendorong mereka menyembah Allah, untuk beribadahlah tujuan mereka diciptakan. Dengan demikian, ibadah yang dimaksud disini lebih luas jangkauannya daripada ibadah dalam bentuk ritual. Tugas kekahlifahan termasuk dalam makna ibadah dan dengan demikian hakekat ibadah mencakup dua hal pokok.
Pertama : kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan.
Kedua : mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup.[2]
Beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini hanya khusus mengenai orang yang telah diketahui oleh Ilmu Allah bahwa ia pasti akan menyembah-Nya, oleh karena ayat ini menggunakan lafadz yang umum dengan makna yang khusus. Perkiraan yang dimaksud adalah tidak Aku ciptakan penduduk surga dari jin dan manusia kecuali untuk menyembahnya.
Al Qusyairi ayat ini pastilah memasuki oleh takhshish (pengkhususan dan pembatasan), karena tidak mungkin orang gila dan anak-anak kecil diperintahkan untuk beribahadah.
Allah juga berfirman dalam Surat Al A’raaf: 175
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (Isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia”. (Qs. Al A’raaf : 175).[3]
Sementara orang-orang yang memang diciptakan juga untuk beribadah oleh karena itu ayat diatas kemungkinan besar dimaksudkan kepada orang-orang yang beriman saja. Hal ini sama persis seperti yang disebutkan dalam Firman Allah:
قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّاOrang-orang arab badui itu berkata: Kami telah beriman”.[4]
Dimana tidak semua orang Arab badui mengatakan mereka telah beriman, hanya sebagian mereka yang mengatakan hal itu. pendapat ini disampaikan oleh Adh-Dhahhak, Al Kindi, Al Faraa’, dan Al Qutabi.
Pendapat ini diperkuat oleh qira’ah yang dibaca oleh Abdullah, yaitu wamaa khalaqtu al jinna wal insa minal mu’minin illa liya’budun (dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia dari golongan orang-orang yang beriman, kecuali untukmenyembah-Ku)[5]
Penafsiran ini ditunjukan oleh apa yang dinyatakan dalam sebuah hadist:
كنت كنز ا مخفيا فاردت ان اعرف : فخلخت ا لخلق فبى عرفونى
“Aku adalah simpanan yang tersembunyi lalu Aku mengehandaki supaya dikenal. Maka Aku pun menciptakan makhluk. Maka oleh karena Akulah mereka mengenal Aku”.
Demikian kata mujtahid. Dan begitu diriwayatkan dari Mujahid, bahwa ayat ini adalah: kecuali supaya Aku memerintahkan mereka dan melarang mereka.[6]
Ali bin abi Thalib menafsirkan makna ayat ini diatas adalah tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali aku perintahkan mereka untuk beribadah pendapat inilah yang dijadikan sandaran oleh Az Zajjaj, ia menambahkan: Hal ini ditunjukan oleh firman Allah SAW.[7]
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Padahal padahal mereka disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutuan”. (At-Taubah, 9:31)
Apabila dikatakan: bagaimana mungkin ada manusia yang berbuat kafir kepada Allah padahal mereka diciptakan untuk bersaksi atas ke Tuhanan-Nya dan tunduk kepada perintah dan kehendak-Nya.
Dijawab: Mereka memang harus tunduk kepada takdir yang ditetapkan atas mereka, karena takdir mereka pasti akan terjadi dan mereka tidak akan mungkin mampu untuk menghindar darinya. Mereka hanya berbuat kepada takdir-nYa itu tidak dapat dihindari.[8]
Sementara itu segolongan mufassir berpendapat bahwa arti ayat diatas adalah:kecuali supaya mereka tunduk kepada-Ku dan merendahkan diri yakni, bahwa setiap makhluk dari jin atau manusia tunduk kepada keputusan Allah, patuh kepada kehendak-Nya dan menuruti apa yang telah Dia takdirkan atasnya. Allah menciptakan mereka menurut apa yang Dia Kehendaki, dan Allah memberi rezeki kepada mereka menurut keputusan-Nya, tidak seorang pun di antara mereka yang dapat memberi manfaat maupun mudharat kepada dirinya sendiri.
Kalimat ini merupakan suruhan agar memberi peringatan, dan juga memuat alasan dari diperintahkannya memberi peringatan. Karena, diciptakanya mereka dengan alasan tersebut menyebabkan mereka harus diberi peringatan yang menyebabkan mereka harus diberi peringatan yang menyebabkan mereka wajib ingat dan meuruti nasihat.[9]
Dalam tafsir Al Qurthubi sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalhah menyebutkan, makna dari firman Allah SWT,
إِلا لِيَعْبُدُون
Melainkan Supaya mereka menyembah-Ku
Arti kata diatas adalah melainkan agar mereka mau beribadah dengan sukarela ataupun terpaksa itu adalah orang-orang yang diperbuatnya dilihat oleh orang lain, tidak mutlak hanya karena Allah SWT.
Mujahid menafsirkan bahwa makna firman tersebut adalah “ Melainkan untuk mengenal-Ku”. Pendapat ini mengundang komentar dari Ats Tsa ‘labi, ia mengatakan: pendapat mujtahid sangat baik, alasanya karena memang apabila Allah tidak menciptakan mereka maka tentu mereka tidak akan mengetahui keberadan-Nya dan Keseaan-Nya. Dalil yang dapat memperkuat penafsiran ini adalah firman Allah SWT.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)”.[10]
Dalam Firman Allah yang lainya                                     
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".[11]
Niscaya mereka akan menjawab: Semuanya diciptakan oleh Maha perkasa lagi Maha Menegatahui”. Sebuah riwayat lain dari mujtahid yang menafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa, bahwa makna dari kalimat tersebut adalah melainkan Aku dapat memerintahkan dan melarang mereka.
Zaid bin Aslam menafsirkan, maksud dari firman tersebut adalah mengenai kesengsaraan dan kebahagiaan yang diciptakan untuk jin dan manusia sebelumnya, yakni mereka akan merasakan kebahagiaan diakhirat nanti adalah memang diciptakan untuk beribadah, sedangkan mereka yang akan merasakan kesengsaraan di akhirat nanti adalah jin dan manusia yang diciptakan senang berbuat maksiat.
Sebuah riwayat lain dari Al Kindi yang menafsirkan ayat ini menyebutkan, bahwa maknanya adalah: melainkan agar mereka dapat mengesakan Aku, dimana orang-orang yang beriman akan mengesakan aku pada saat senang ataupun sengsara, sedangkan orang-orang yang kafir hanya mengesakan Aku pada saat mereka kesulitan saja, tidak pada saat mereka mendapatkan kesenangan. Hal ini ditunjukan pada firman Allah SWT.
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”.[12]
Ikrimah menafsirkan maknanya adalah: melainkan hanya untuk menyembah-Ku dan taat kepada-Ku, agar Aku dapat memberikan pahala bagi siapa saja yang rajin beribadah dan Aku akan menghukum bagi siapa saja yang ingkar.
Ada juga yang menafsirkan maknanya adalah melainkan Aku meminta mereka untuk menyembah-Ku. Sementara makna-makna yang disebutkan ini tidak jauh berbeda, dimana kata ‘abada adalah menyembah, dan makna awal dari kata ‘Ubudiyah (mempersembah) adalah tunduk dan patuh terhadap yang disembah. Sedangkan makna kata ta’bid, i’tibaad dan Istib’aad adalah menundukan atau mengambil seseorang untuk dijadikan hamba. Kata ibadah maknaya adalah taat, adapun ta’abbud artinya ibadah melaksanakan peribadatan.
Oleh karena itu, makna utama untuk kata لِيَعْبُدُون pada firman diatas adalah agar mereka tunduk, patuh, dan melakukan peribadatan.[13]
Pada ayat di atas menegaskan bahwa Allah menciptakan jin dan mausia adalah menyuruh mereka mengerjakan amar dan menegah mereka dari mengerjakan mungkar.[14]
Nilai yang terkandung dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 adalah sebagaiberikut:
1.      Kita sebagai mnausia ciptaan Allah, maka seharusnya kita beriman kepada Allah dan patuh atas segala perintah-Nya.
2.      Kita hendaknya taat dan tunduk terhadap perintah Allah.
3.      Jika kita murka kepada Allah, maka Allah akan memberi azab yang pedih kepada kita dan tidak ada seorangpun yang mampu menolak azab tersebut, dan juga tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita untuk menghindari azab tersebut.

                                                                        
           




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH guna mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat dengan melalui ridha-Nya.
Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam ayat-ayat dalam Pembahasan. Dan ALLAH menciptakan jin dan manusia semata-mata hanya untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.
Mudah-mudahan kita sebagai pekerja-pekerja atau hamba-hamba ALLAH yang baik,yang taat, maka marilah kita perbaharui niat dan tujuan hidup kita semoga kita semua mendapat kasih sayang , kepercaaan dan cinta ALLAH. Semoga hidup yang sekali ini akan sukses dan diberkahi oleh ALLAH. Nilai yang terkandung dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 adalah sebagai berikut : Kita sebagai mnausia ciptaan Allah, maka seharusnya kita beriman kepada Allah dan patuh atas segala perintah-Nya, Kita hendaknya taat dan tunduk terhadap perintah Allah. Jika kita murka kepada Allah, maka Allah akan memberi azab yang pedih kepada kita dan tidak ada seorangpun yang mampu menolak azab tersebut, dan juga tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita untuk menghindari azab tersebut.







DAFTAR PUSTAKA
Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al Maraghi, Ahmad Musthafa. 1989. Tafsir Al Maraghi. Semarang: Tahaputra
Ash-Shiddieqy. 1973. Tafsir Al Qur’anul Madjied An Nur. Jakarta: Bulan Bintang



[1] (Qs. Adz Dzaariyat (51) : 56)
[2] file:///C:/Users/asus/Documents/makalah-tafsir.html (tanggal 18 Maret 2013, Pukul 9:45)

[3] (Qs. Al A’raaf:175)
[4]( Qs. Al A’raaf:179)
[5] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta:Pustaka Azzam, 2009), hlm. 293-294
[6] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Semarang: Tahaputra, 1989), hlm. 20-21
[7] Syaikh imam Al Qurthubi .Tafsir Al Qurthubi...,hlm. 295
[8] Ibid.,195
[9] Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi...,hlm. 21
[10] (Qs. At Taubah:31)
[11] (Qs. Az-Zukruf:87)
[12] (Qs. Luqmaan : 32).
[13] Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi...,hlm. 295-296
[14] Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir Al Qur’anul Madjied An Nur, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 15

1 komentar:

  1. syukran, artikelnya sangat bermanfaat bagi saya,,,jazakallah

    BalasHapus